Wonogiri - Saat mudik Idul Fitri, kita sering menemui hal-hal unik yang tidak ditemui di kota. Salah satunya adalah pasar krempyeng.

Layaknya pasar di mana pun, pasar krempyeng adalah pasar yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, dari pakaian sampai bumbu dapur. Namun yang membedakan adalah, pasar jenis ini hanya buka sesuai hari di kalender Jawa, seperti Pon, Kliwon, dan Wage. 

Seiring dengan arus urbanisasi (perpindahan orang desa ke kota) yang terjadi di desa-desa, aktivitas pasar tradisional ini juga mengalami dampaknya. Pantauan Tagar aktivitas pasar krempyeng di desa-desa kurang menggeliat, salah satunya adalah Pasar Kepuh di Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri.

"Dahulu pasar ini ramai mas, tapi sekarang yang seperti ini," Kata Saniyem kepada Tagar, Jumat, 7 Juni 2019.

Pedagang pakaian di Pasar Kepuh tersebut telah berjualan di pasar tersebut sejak 25 tahun yang lalu. Saat ini kondisi pasar seperti 'hidup segan mati tak hendak'. Sekitar tahun 80'an, Pasar Kepuh sangat ramai oleh pembeli dan pedagang.

"Yang penting ada kegiatan. Daripada tidak berdagang malah nganggur di rumah," Katanya dalam bahasa Jawa Krama

Seorang pedagang yang lain, Sutijem, yang telah berjualan kuliner bernama Gendar Pecel, menerangkan kalau pasar ini bisa menjadi salah satu tempatnya menjual dagangan.

"(Pasar 'krempyeng') ini masih menjadi salah satu tempat saya untuk berjualan, tapi kalau ada keramaian, seperti wayang (kulit) atau organ tunggal, saya juga bisa dagang," katanya.

Tidak banyak pedagang yang beraktivitas di pasar tersebut di H+3 Idul Fitri. Sepanjang pasar tersebut buka dari jam 6 sampai 10 pagi, hanya ada 4 pedagang yang berada di sana.

Pembeli, yang sebagian besar adalah perantau yang pulang ke kampung halaman saat libur Idul Fitri lebih tertarik untuk membeli gendar pecel-nya Sutijem.

"Harganya dua ribu lima ratus. Mungkin kalau di Semarang tiga ribu'an. Kalau masalah rasa sama saja, cuma disini (bumbunya) lebih tradisional," Ujar Yanti, perantau dari Semarang

Sepinya pasar-pasar tradisional seperti Pasar Kepuh itu karena sekarang masyarakat desa banyak yang memiliki sepeda motor. Mereka tidak begitu mengandalkan pasar krempyeng untuk memenuhi kebutuhan. Setiap orang bisa membeli kebutuhan sehari-hari di toko serba ada atau pasar utama di kecamatan dengan mengendarai motor.

"Pasar ini sepi, tapi semoga tidak mati, karena dari kecil saya sudah beli disini," Kata Yanti.

Namun perempuan yang bekerja sebagai admin di sebuah pabrik tekstil itu juga merasa iba dengan pedagang di Pasar Kepuh itu. Jika pasar sepi, tentu keuntungannya juga sedikit, atau malah tidak rugi. []