Surabaya - Tradisi mudik Idul Fitri selalu menyelipkan cerita. Saat mendekati Lebaran, jutaan orang bergerak dari kota menuju kampung halaman. Program teranyar bertajuk mudik gratis ternyata membawa berkah bagi sebagian warga.

Coba simak penuturan Hildalia Thamrin, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Surabaya. Gadis belia ini bersemangat ikut program mudik gratis oleh Pemeritah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Mudik gratis membantunya bisa bertemu keluarga, sahabat dan kerabat nun di kampung halaman, di Bojonegoro, Jatim.

Saking semangatnya Lia, panggilan akrabnya, sudah tiba di Stasiun Gubeng Surabaya sejak pukul 15.30 WIB. Apalagi dia baru pertama kali mengikuti mudik gratis menggunakan kereta api. 

Lia tak ingin melepas kesempatan baik ini. Baginya mudik gratis lumayan menghemat pengeluaran, konon dirinya masih mahasiswi. Naik kereta api menjadi pengalaman mengasyikan, melihat mulai baiknya manajemen perkeretaapian saat ini. 

"Sangat terbantu sekali. Sebelumnya kalau mudik selalu pakai bus," ujarnya, ditemui di sela-sela pelepasan mudik gratis Pemprov Jatim di Stasiun Gubeng Surabaya, Senin 3 Mei 2019 lalu.

Memang, mudik gratis dengan menggunakan moda kereta api program anyar Pemprov Jatim, secara khusus untuk warga Surabaya. Sebelumnya, provinsi yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa ini menggelar mudik gratis menggunakan moda bus.

"Mudik menggunakan kereta api lebih nyaman dibandingkan bus. Apalagi kalau kereta api tidak ada berdesak-desakan, tidak seperti jika naik bus," kata dia.

Ancaman kriminalitas juga membuatnya memutuskan beralih menggunakan kereta besi memanjang itu. Mahasiswi semester akhir ini pernah menjadi korban gendam pada saat mudik dua tahun lalu. "Kalau naik bus, bahaya gendam dan copet di terminal-terminal bisa bikin was-was," cerita dia.

Cerita M Rizki, warga Surabaya asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) hampir mirip-mirip, memanfaatkan mudik gratis juga faktor hemat dan lebih nyaman. Beda dengan Lia, pemuda yang bekerja di Surabaya ini mempercayakan transportasi mudiknya menaiki kapal laut.

Jadwal kapal baru akan berlayar pada pukul 01.45 WIB. Tapi Rizki sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pukul 22.00 WIB. Kapal yang akan membawanya ke Wakatobi, KM Dorolonda rute Surabaya-Makassar-Bau-bau.

Menunggu beberapa jam di terminal Gapura Surya Nusantara bagi Rizki tidak menjadi masalah. Datang lebih awal tak membuatnya terburu-buru dan menghindari berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

"Momen mudik selalu banyak warga yang ingin pulang kampung. Jadi sering berdesak-desakan saat akan naik ke kapal," sebutnya.

Mudik menggunakan kapal laut merupakan pengalaman pertamanya sejak pindah bekerja dari Wakatobi ke Surabaya tahun 2012 lalu. Sebelumnya dia lebih suka naik pesawat untuk mendarat di kampung halaman Wakatobi.

Mudik itu kan setahun sekali. Berkumpul dengan orang tua dan keluarga paling penting

Harga tiket pesawat naik dua kali lipat menjadi alasan beralih menggunakan transportasi laut. Apalagi kapal yang akan membawanya gratis. Dia mengaku senang dengan cara pemerintah memfasilitasi warga, setidaknya memudahkan dia dan jutaan orang berkumpul dengan keluarga.

"Harga tiket ke Wakatobi dari Surabaya mahal dua kali lipat dari biasanya, bisa mencapai tiga jutaan. Jadi mudik menggunakan kapal laut adalah pilihan terbaik, meski waktu tempuhnya lebih lama," ujarnya.

Rizki juga tak mempermasalahkan durasi waktunya di perjalanan dengan naik kapal laut. Sampai dengan selamat di kampung halaman dan bisa berkumpul bersama orang tua serta keluarga besar merupakan sesuatu yang sangat berharga.

"Mudik itu kan setahun sekali. Berkumpul dengan orang tua dan keluarga paling penting," tegasnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Fattah Jasin menyebut untuk tahun ini Pemprov Jatim banyak menggelar mudik gratis. Ada sebanyak 270 ribu warga diikutkan dalam mudik gratis lewat bus, kapal laut dan kereta api.

Jika kemudian Jatim meraih label terbanyak memfasilitasi mudik gratis dan memecahkan rekor, bukan hal aneh Museum Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan.

"Kemarin program mudik dan balik gratis sudah tercatat di MURI. Alhamdulillah mudik tahun ini, semuanya lancar," kata dia.

Dari 270 ribu tersebut, Fattah merinci 166 ribu pemudik menggunakan kereta api, untuk bus ada 20 ribu dan kapal sekitar 15.000.

"Kereta memang tercatat paling banyak. Tujuannya di daerah Madiun serta seluruh Jatim," katanya.[]

Baca juga: