Surabaya, (Tagar 19/4/2018) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengembangkan pemanfaatan data satelit untuk keamanan laut.
Keamanan laut ini lebih ditujukan pada  pemantauan lingkungan dan kemaritiman, terutama dalam pengembangan Automatic Identification System (AIS).

Dalam pengembagan ini, ITS bersama LAPAN sudah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama pengembangan satelit ini di kantor LAPAN di Bogor, pada awal April lalu.

Info Posisi Kapal
Dari situ, Direktur Inovasi, Kerja sama, dan Kealumnian ITS, Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng menjelaskan bahwa kerjasama tersebut sangat menguntungkan bagi Pusat Unggulan Iptek Keselamatan Kapal (PUI KEKAL) ITS. Dengan demikian, data AIS milik LAPAN dapat dengan mudah dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan kapal besar serta lokasi pipa laut.

Hal ini didasarkan pada kewajiban setiap kapal besar yang memiliki ukuran lebih dari 300 gross tonnage (GT) supaya dilengkapi data AIS. Data itu untuk mempermudah pemilik kapal dalam memantau lokasi kapalnya.

Akan tetapi, masih ada kekurangan dimana data AIS ini belum dilengkapi dengan data lokasi pipa laut. Sedangkan data tersebut amat penting, dikarenakan jika keberadaan kapal berdekatan dengan pipa laut maka akan sangat berbahaya.

Keamanan Pipa Laut
"Ketika kapal berhenti di dekat pipa laut, ada indikasi untuk melempar jangkar. Tindakan ini akan mempengaruhi kebocoran pipa yang bisa menimbulkan ledakan dan kebakaran seperti yang terjadi di Teluk Balikpapan kemarin itu," tuturnya menjelaskan risiko yang bisa terjadi.

Oleh karena itu, lanjut dosen yang kerap disapa Dodhot ini mengatakan bahwa hal ini yang nantinya akan concern digarap ITS bersama LAPAN. Kemudian, PUI KEKAL ITS akan mencoba membuat inovasi baru.

"Kalau data AIS ITS ini berhasil dikembangkan, maka akan lebih mudah bagi kapal untuk menghindari pipa laut, dan mengurangi risiko kecelakaan dan pencemaran lingkungan semacam itu," jelas dosen Teknik Kelautan ini.

Selain itu, imbuh Dodhot, kondisi pemanfaatan data untuk lokasi kapal dan pipa laut ini sifatnya masih terbatas hanya di daerah Singapura, Selat Madura, Jakarta, Sulawesi dan Kalimantan. Bagi daerah-daerah lain masih memanfaatkan data gelombang radio. "Harapannya dengan adanya data satelit ini semua bisa ter-cover semuanya," pungkasnya. (lut)