Yogyakarta (Tagar 3/7/2018) - Penderita tunarungu dan tunawicara di Indonesia tergolong besar. Data hasil Survei Kesehatan Nasional oleh Kementerian Kesehatan pada 1993-1996 menyebutkan, jumlah tunarungu ada 0,4 persen dan tunawicara 16,8 persen dari total penduduk Indonesia.

Sedangkan data WHO pada 2000 menyebutkan, sebanyak 250 juta penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran. Dari jumlah itu, sedikitnya 75 juta berasal dari Asia Tenggara.

Penerjemah

Tingginya dua penderita tersebut belum diimbangi dengan kecanggihan teknologi untuk membantu mereka dalam berinteraksi dengan warga sekitar.

Atas dasar ini, tiga mahasiswa UGM mengembangkan alat penerjemah bahasa isyarat. Alat ini berbentuk sarung tangan.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Nindi Kusuma Ningrum sebagai Ketua Tim Pengembang, dibantu oleh Faturahman Yudanto dan Lely Monalisa. "Alatnnya berupa sarung tangan, bisa menerjemahkan bahasa isyarat langsung ke bahasa verbal. Ini membantu mereka dalam berkomunikasi dengan orang sekitarnya," kata Nindi, Selasa (3/7).

Sarung tangan yang dikembangkan ini diberi nama SIGNLY. Singkatan dari Sign Language Translator Synchronously. Sarung tangan ini dilengkapi dengan katalog bahasa isyarat masukan yang diambil dari American Sign Language, Bahasa Isyarat Indonesia serta masukan kombinasi lima jari tangan sebelah kanan.

Nindi menjelaskan, perangkat ini terdiri dari beberapa komponen yakni sarung tangan, smarfphone dan komputer. Di dalam sarung tangan ini dipasangi alat berupa flek sensor yang berguna mendeteksi gerakan dan posisi jari tangan.

Dia menyebutkan, dari gerakan tersebut akan mengeluarkan output berupa bahasa verbal tulis atau rangkaian huruf.  Output tersebut dikonversikan dalam bentuk suara. "Jadi orang yang tidak tahu bahasa isyarat dapat mengerti apa yang dikomunikasikan," ungkap Nindi.

Sedangkan lawan bicaranya dapat menjawab dengan bahasa sehari-hari. Apa yang diucapkan tersebut secara otomatis akan dikonversikan dalam bentuk verbal tulis. Penyandang tunarungu dan tuna wicara dapat dengan mudah membacanya di layar dekstop atau hanphone.

Anggota Tim, Faturahma mengatakan, alat SIGNLY ini sengaja dirancang untuk memudahkan komunkasi antara penyandang tunarungu dan tunawicara dengan orang sekitarnya. "Harus diakui, komunikasi bahasa isyarat sulit dipahami awam. Nah, alat ini membantu komunikasi antara bahasa isyarat dengan bahasa verbal," kata dia.

Dia mengatakaan, prototipe masih sangat dimungkinkan dikembangkan lebih canggih. Pengembangan dalam waktu dekat adalah dengan menambah fungsi alat untuk menerjemahkan bahasa isyaraat ke verbal suara. (ans)