Jakarta, (Tagar 4/7/2018) - Siapa yang tak kenal Aplikasi Tik Tok? Aplikasi buatan China ini sudah digandrungi banyak kalangan sehingga virus Tik Tok berkembang pesat, booming di kalangan pengguna media sosial, khususnya anak muda dan pelajar.

Tapi tak ada yang menyangka aplikasi tersebut diblokir oleh Kementerian Kominfo. Kabar pemblokiran ini membuat penasaran hingga menjadi topik perbincangan hangat.

Kementerian Kominfo mempunyai alasan mengapa memblokir aplikasi Tik Tok tersebut. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (APTIKA) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, pemblokiran aplikasi tersebut disebabkan adanya pelanggaran konten berbau pornografi, asusila, pelecehan agama, dan lain-lain.

Namun, kata Semuel, pemblokiran Tik Tok hanya bersifat sementara, sampai ada perbaikan dan pembersihan konten-konten ilegal dari pihak Tik Tok.

Selang sehari pemblokiran, aplikasi tersebut sudah tak bisa diakses. Bahkan ketika dibuka, antarmuka aplikasi hanya menyodorkan pemprosesan (loading) konten saja.

Keputusan Kominfo memblokir Tik Tok juga bukan didasari sepihak saja. Namun juga Pemerintah sudah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Ternyata banyak laporan dari masyarakat yang masuk ke Kominfo. Salah satunya petisi yang mendukung gerakan pemblokiran Tik Tok. Petisi ini ditulis di laman change.org yang sudah ditandatangani sekitar 130 ribu pendukung.

Dalam laman change, masyarakat membuat sebuah petisi berisi permohonan kepada Menkominfo agar memblokir aplikasi Tik Tok. Agustiawan Imron, pembuat petisi berjudul "Blokir Aplikasi Tik Tok" mengatakan, platform yang sedang populer ini bisa menimbulkan masalah bagi banyak orang.

"Semakin lama, aplikasi Tik Tok lebih terlihat sebagai aplikasi untuk menyalurkan kebodohan banyak kalangan. Contohnya: Video tiktok anak-anak yang joget (maaf) dan bahkan sampai ke video pornografi. Bahkan yang terbaru adalah tiktok menjadikan sholat/ibadah sebagai alat hiburan," tulisnya dalam penjelasan petisi tersebut.

Memang, tak sedikit yang menduga, Tik Tok diblokir pasca viralnya  Bowo Alpenliebe, bocah berusia 13 tahun yang disebut-sebut sebagai "Artis" Tik Tok. Tak heran remaja yang satu ini banyak digandrungi oleh para remaja karena video-video yang diunggah melalui akun Instagram miliknya, @Bowo_alpenleibe.

Akibat video-video yang diunggah bocah itu, tak heran mengundang kecintaan para millenial pada artis Tik Tok tersebut. Namun hingga saat ini banyak cuitan yang meresahkan dari para fansnya, yang menyebutkan rela melakukan apa saja demi bertemu Bowo, mulai jual ginjal hingga memberikan keperawanannya pada bocah berusia 13 tahun tersebut.

Berikut postingan-postingan para fans Bowo di media sosial Facebook yang mengarah ke hal-hal negatif:

Status postinganStatus-status postingan Facebook penggemar Bowo. (Tagar/Gilang)

"Bowo orang manasih kok ganteng banget ya gak kayak laki2 Indonesia. Aku rela diusir dari rumah asalkan perawanku pecah sama dia. Semoga Bowo membacanya," kata Liaa liaa dalam akun Facebook Debat anak Meme vs ADM.

"Aku rela menjual ibuku demi bertemu dengan Bowooo," cuit Buana Hutahaean dalam akun Facebook Debat Anak Meme Vs ADM (Official Group).

Ternyata bukan hanya pernyataaan-pernyataan para fansnya yang berkonten negatif itu saja yang sempat menghobohkan di media sosial. Tetapi bocah yang memiliki nama asli Prabowo Mondarto tengah ramai diperbincangkan lantaran menggelar meet and greet dengan menarik biaya untuk foto bersama sebesar Rp 80.000.

Hebohnya perbincangan meet and greet tersebut, akun Ine Rosdiana mengungkapkan fakta lain tentang hal tersebut. Ine diketahui adalah perempuan yang selalu mendampingi dan menjadi orang yang dimintai tolong oleh bocah berusia 13 tahun itu.

"3 hari lalu anak ini dtg ke rumah, awalnya gua sm skali gtau tntang dia smpai akhirnya dia ceritain semuanya. 1. Meet and greet bkn dia yg ngadain tp fansnya itupun uangnya dibawa yg ngadain bowo gdpt sepeserpun uang. 2. Di tik tok dia putih tp aslinya menurut gw hitam manis kaya iqbal kecil dan dia pendiem bgt ramah lucu bgt," tulis Ine Rosdiana.

Selama mengenal Bowo, menurut Ine bocah tersebut mempunyai karakter yang baik dan rajin beribadah. Namun seiring namanya telah menjadi populer sebagai artis Tik Tok, malah disalahgunakan.

"Yg penting skrg rejekinya bowo jauh lebih banyak dr pd haters2 yg cm bisa pake fake account dan bicara pake kata2 yg ga berpendidikan bgt :)," tegas Ine.

Pasca diblokirnya aplikasi Tik Tok oleh Kominfo, bocah yang memiliki pengikut di Instagram sebanyak 30 ribu ini tak lepas dari sindiran dari para netizen.

Akun @TretanMuslim menuliskan, “Tik tok emang sampah, tapi klo bs tempat cari duit ya jangan di salahkan dong bro, justru bisnis Tik tok ini termasuk industri pengolahan sampah jadi uang, harus di support pemerintah, bilang ga ada karya, satu2nya karya terbesar Bowo adalah membuat kalian kesel ama doi. Respec.”

Sementara dalam akun @joxzin_jogja menulis, “Matur nuwun sederek sedoyo masyarakat twitterland, Tik tok diblokir? Duh, bowo njuk alih profesi dadi opo iki? Kepikiran akutu.”

“Setelah kawin gagal, ngABRI gagal, nyawapres gagal, nyapres gagal…nyapres lagi terancam gagal, Sepertinya bowo dan kader-kadernya harus mulai berfikir utk pindah karier di Tik Tok,” tulis akun @joxzin_jogja.

“Awal muncul aplikasi Tik Tok ga sedikitpun tertarik, saya pikir tik tok lebih terlihat sebagai aplikasi untuk menyalurkan kebodohan banyak kalangan, ga ada faedah nya sama sekali,” kata akun Xiaomi Militan.

Namun akun @uusbiasaaja mempunyai pendapat berbeda. “Bowo Alpenliebe, kasian banget tau. Gua yakin yang bikin meet and greet berbayar itu juga bukan dia yang mau. Bowo cuma tau main tik tok tapi ada yang punya akal bisa diduitin. Anak sekecil itu dengan hinaan segitu banyak. Biarin aja dia alay. Bukankah kita juga pernah atau masih?” kata Uus.

Blokir Tik Tok Tidak Pas

Pemblokiran aplikasi Tik Tok oleh Pemerintah, membuat pengamat media massa dari Universitas Media Nusantara (UMN) Ignatius Hariyanto ikut mempertanyakan langkah pemerintah memblokir aplikasi itu.

"Saya justru mempertanyakan kenapa harus diblokir? Kalau dibilang konten tidak sehat kan bisa spesifik mengacu pada akun tertentu saja. Blokir Tik Tok buat saya lucu dan aneh. Mengapa harus takut dengan Tik Tok yang buat saya tak lebih dari keisengan saja," ucap Ignatius saat dihubungi Tagar News, Rabu (4/7).

Menurut dia, langkah Pemerintah memblokir Tik Tok bukanlah langkah yang tepat. Tetapi dia menyarankan kepada Pemerintah membuat literasi media atau media literacy untuk mencerdaskan masyarakat.

"Solusinya bukan dengan urusan blokir-blokiran. Blokir itu untuk kasus Tik Tok tidak pas. Jadi kalau pemerintah pakai blokir ini tidak mencerdaskan. Cerdaskan masyarakatnya dengan media literacy," tuturnya. (ron)