Semarang – Wajah sumringah nampak dari raut muka seorang ibu yang tengah menuruni tangga KM Dobonsolo. Ibu berkerudung biru itu turun dari kapal bersama suami dan putranya mengenakan jaket hitam hijau di dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Senyumnya langsung mengembang kala menyadari di bawah ujung tangga kapal, muncul orang yang ia kagumi selama ini. Spontan, seperti anak kecil yang ketemu dengan sang idola, ia pun kegirangan.

"Pak foto dulu, Pak. Kangen sama Bapak. Lama ndak ketemu, Pak. Biasanya cuma lihat di televisi," teriak dia sembari menunjuk ke arah orang yang dimaksud.

Sang idola ternyata adalah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Mengenakan baju putih, gubernur ganteng berambut putih itu berdiri menyambut kedatangan pemudik. Sesekali melambaikan tangannya ke arah pemudik yang masih di atas kapal menunggu antrean turun dari kapal.

Mendengar teriakan dari seorang ibu, Ganjar menoleh dan spontan menyeru tak kalah antusias. "Ayo, nek arep poto karo aku ya mudun (ayo kalau mau foto sama saya, ya turun), mosok jerit-jerit ning dhuwur kapal ngunu (masa jerit-jerit dari atas kapal seperti itu)," candanya dengan bahasa khas Jawa Ngoko.

Maka berfoto ceria lah si ibu dan anak dengan gubernurnya. Si anak pun terlihat tak canggung kala diajak ngobrol soal pengalamannya berada di atas kapal. Sambil sesekali menunjuk ke bagian atas kapal, bocah itu bercerita apa yang dilihatnya selama berada di kapal.

Dan seperti yang sudah biasa terjadi kala Ganjar menyapa warganya, ia jadi obyek rebutan untuk foto bareng. Tak hanya si ibu dan anaknya, penumpang kapal lain peserta mudik gratis via kapal laut juga ikut antre foto.

"Iki do arep balik ning ngendi (ini pada mau pulang ke mana)," tanya Ganjar ke sejumlah pemudik yang berebutan salaman dan ingin selfie.

"Magelang Pak. Solo Pak. Saya Boyolali Pak," sahut para pemudik seperti berlomba memberi tahu.

Dan dengan sabar, Ganjar meladeni permintaan foto dari warga Jateng yang sehari-hari mengadu nasib di Jakarta itu. Sesekali ia berseloroh disambut gelak tawa para pemudik.

"Orangnya nyantai tidak seperti umumnya pejabat yang kerap terkesan jaga jarak. Seperti Pak Jokowi yang merakyat," cetus Mulyadi, pemudik asal Magelang.

Mulyadi mengaku sudah dua kali mengikuti program mudik gratis menggunakan kapal laut. Ini membuatnya terkesan dan ingin mengulang di musim mudik Lebaran tahun mendatang.

"Lebih aman, kita bisa bercanda dengan keluarga selama di kapal. Menjadi pengalaman tersendiri bagi anak-anak," ujar ayah satu putra ini.

Mulyadi menerangkan, selama perjalanan 15 jam dari Jakarta, dirinya mendapat fasilitas bagus dari panitia. "Dari Jakarta sejak kemarin sore, ini alhamdulillah sudah mendarat. Di atas kapal terasa nyaman, tidak pusing karena kapalnya besar. Malah dapat makan juga sampai dua kali. Menunya enak-enak, ada rendang, ayam, sayur dan lainnya," papar dia.

Selain nyaman dan menyenangkan, bagi Mulyadi, mudik menggunakan kapal laut lebih aman dan menghemat ongkos ketimbang harus berkendara sendiri. Setidaknya bisa ngirit operasional Jakarta – Semarang sebelum berlanjut ke Magelang.

"Enak naik kapal, selain gratis juga bisa bawa motor. Dari Semarang lanjut ke Magelang, bisa hemat BBM dari Jakarta," ujar dia tersenyum.

Senada disampaikan Herman Fajar (40) pemudik asal Sragen. Program mudik gratis sangat membantu dirinya dan keluarga karena uang untuk transportasi bisa digunakan untuk kebutuhan lain di kampung halaman.

"Kalau mudik sendiri, saya bersama keluarga minimal butuh biaya transport Rp 2 juta sekali berangkat. Alhamdulillah ini difasilitasi gratis, nanti arus balik ke Jakarta juga akan naik kapal ini lagi," sambung dia.

Spontan Sambut Pemudik

KM Dobonsolo mengangkut 1.982 pemudik dari Jakarta dengan tujuan berbagai daerah di Jateng. Berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, ribuan warga Jateng yang mengikuti program mudik gratis dengan kapal laut tiba di Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang, Jumat 31 Mei 2019 siang.

Sebenarnya tidak ada agenda kerja Gubernur Ganjar untuk menyambut kehadiran pemudik. Awalnya Ganjar bermaksud mengecek kesiapan Pelabuhan Tanjung Emas untuk arus mudik. Namun saat Ganjar tiba di pelabuhan, ternyata bersamaan dengan sandarnya KM Roro Dobonsolo yang mengangkut pemudik. Langsung saja, Ganjar menuju ke dermaga kapal untuk menyambut kedatangan mereka.

Tidak direncanakan, Ganjar mengaku surprise dan sangat senang dapat menyambut para pemudik gratis kapal laut di pelabuhan itu. "Saya senang karena program ini disambut antusias masyarakat. Lihat saja wajah-wajah para pemudik yang semuanya bahagia," ujar mantan anggota DPR RI dua periode itu.

Ganjar mengatakan, program mudik gratis tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat yang sudah berjalan beberapa tahun lalu. Tujuannya, untuk mengangkut pemudik asal Jateng yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya pulang ke kampung halaman.

"Maka kami dorong masyarakat agar menerapkan pola ini setiap tahunnya," tutur Ganjar.

Program mudik gratis dengan kapal tersebut, lanjut dia, selama ini berjalan baik. Para penumpang bisa diangkut bersama kendaraan masing-masing sehingga mengurangi kemacetan dan angka kecelakaan di jalan. Apalagi, dari pelabuhan juga disediakan bus gratis yang mengangkut para pemudik ke daerah masing-masing.

"Jadi, di bagian atas kapal untuk penumpang, dak bawah berisi sepeda motor. Ini relatif aman, membuat jalanan tidak macet dan mereka bisa nyaman dan senang di kapal selama 15 jam. Bisa nyanyi-nyani, bercengkrama dengan warga lain dan mendapat fasilitas makan," urai dia.

Di penghujung wawancara dengan sejumlah awak media yang meliput kedatangan para pemudik, Ganjar berharap program ini bisa dipertahankan. Masyarakat pun diminta untuk lebih baik memilih layanan pemerintah tersebut ketimbang harus mudik menggunakan motor sendiri.

Karenanya pada arus balik Lebaran nanti, masyarakat diharap lebih banyak memanfaatkan layanan mudik gratis menggunakan kapal laut ini. "Kalau animo masyarakat tinggi, nanti kami akan minta pemerintah pusat untuk menambah kapalnya," tukas dia.[]

Baca juga: